Menghijaukan Kembali Panjang Baru melalui Pertanian Perkotaan
Kelurahan Panjang Baru, sejak sering terkena banjir dan rob menjadikan salah satu wilayah di Kota Pekalongan yang sangat panas dan gersang karena minimnya pohon dan tanaman. Bukan dikarenakan warganya tidak menyukai tanaman, tapi memang lingkungan saat itu tidak mendukung, sudah ditanam banyak di beberapa tempat, mati tak tersisa kena terjangan air banjir rob yang memang sering payau sampai asin, semua tanaman mati seketika. Segala daya upaya sudah dikerahkan untuk kembali menanam, namun banjir rob kembali melanda. Periode ini berlangsung berulangkali sampai puluhan tahun.
Setelah mulai dibangunnya tanggul laut untuk membendung banjir rob atau luapan air laut ke darat dan diperbanyaknya stasiun pompa di beberapa titik untuk menyalurkan air hujan atau luapan sungai menuju ke laut, Pekalongan sisi utara sudah tidak banjir lagi. Geliat tanam menanam mulai tumbuh kembali, termasuk di Kelurahan Panjang Baru.
Tepat setahun yang lalu Maret 2024, Kemitraan melalui program AF Pekalongan dengan adanya pengesahan dokumen Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim (RAD API) Kota Pekalongan mendukung aksi dari Kelompok Kerja Perubahan Iklim (Pokja PI) selama 5 Bulan dengan berbagai kegiatan untuk mendukung peningkatan alternatif mata pencaharian dan kemandirian keberlanjutan di 8 kelurahan intervensi dampingan termasuk di kelurahan Panjang Baru.
Sesuai dengan Program Kerja Pokja PI Panjang Baru, diajukan beberapa aksi untuk bulan Maret Pelatihan Pembuatan Kerajinan Tangan dari Sampah Plastik Rumah Tangga, bulan April Pelatihan pembuatan Pupuk Kompos Sederhana dari Sampah Organik Rumah Tangga dan untuk bulan Mei sampai Juli mengajukan pengembangan Pertanian Perkotaan atau Urban Farming. Tulisan ini akan mengulas sedikit terkait Urban Farming di Kelurahan Panjang Baru untuk menjadi salah satu yang mendukung kembali hijaunya wilayah Kelurahan panjang Baru.
Pengembangan pertanian perkotaan pertama di bulan Mei adalah bertempat di Kebun Ceria RT 04 RW 04 milik kelompok ibu Sofi dan ibu-ibu di sekitarnya. Sebuah lahan sisa samping rumah bu Sofi yang disulap menjadi sebuah kebun tanaman.
Lokasi ini salah satu langganan banjir dikarenakan tanah yang lebih rendah daripada jalan utama, saking seringnya dan lamanya banjir, pernah jalan sampai berlumut dan licin. Salah satu wilayah yang memang padat penduduk, menjadikan kurang adanya ruang terbuka hijau

Penamaan Kebun Ceria ini dikarenakan sudah sangat dikenal bahwa dulu menjadi lokasi Posyandu “Ceria” dan sebagai pengingat untuk selalu Ceria dalam kegiatan tanam menanam, setidaknya untuk menjadi refreshing mata melihat hijau-hijau ditengah utara yang dikenal panas dan gersang. Bak oase diatara hamparan gurun pasir yang panas terik, Kebun Ceria menjadi salah satu harapan penghijuan di daerah dekat pesisir utara Kota Pekalongan.
Ciri Khas dari Kebun Ceria ini adalah keanekaragaman tanaman yang ada, mulai dari sayuran, buah-buahan, tanaman hias sampai tanaman obat keluarga. Sebuah bukti bahwa apabila mencintai dan memahami treatment tanaman, bukan tidak mungkin hampir semua jenis tanaman juga tetap bisa tumbuh dengan baik di wilayah yang anginnya saja sudah asin. Selain itu, Kebun Ceria juga memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam dan penggunaan Pupuk Kompos buatan sendiri dari hasil mempraktekkan pelatihan bulan sebelumnya.
Pada bulan Juni, pindah ke RT 04 RW 06 Gedangan untuk mengembangkan pertanian perkotaan di Kebun Cemara. Sebuah lokasi lain di Kelurahan Panjang Baru yang padat penduduk, gersang dan sangat kurang penghijauan. Sesuai nama, Kebun Cemara ini masuk di RW 06 yang dikenal dengan Gang Cemara karena dahulu gang ini penuh dengan pohon cemara. Sekarang sudah penuh dengan rumah dan pabrik pengolahan ikan.
Ciri khas dari Kebun Cemara ini adalah lokasi mereka memanfaatkan pekarangan rumah dan sebuah inovasi menggunakan metode Fertigasi Kapiler. Fertigasi kapiler adalah cara mengalirkan nutrisi atau air dari bawah menuju keatas untuk tanaman dengan menggunakan kain flanel atau melalui kapiler-kapiler lain. Sebuah metode baru dengan mengombinasikan antara media tanah dan air yang biasa disebut semi hidroponik sehingga dapat mengefisiensi waktu penyiraman dan tanaman bisa tetap lembab karena terdapat penyimpanan air dibagian bawah tanaman yang dihubungkan dengan sumbu kain flanel. Metode ini dipilih karena dapat diterapkan dalam skala rumah tangga serta dapat diterapkan untuk daerah kota yang mempunyai lahan yang sempit.
Selain inovasi metode Fertigasi Kapiler, Kebun Cemara juga memanfaatkan botol dan galon bekas menjadi media tanam atau pot yang kemudian dicat warna warni. Pengecatan ini bertujuan untuk membuat pot galon dan botol lebih awet karena dengan memanfaatkan cat warna dapat mengurangi tumbuhnya lumut yang memperkeruh air sekaligus menambah estetika saat ditampilkan di Kebun Cemara. Warna-warni pot botol dan galon bekas dapat lebih menarik warga sekitar untuk melihat, mengunjungi sekaligus belajar bersama di Kebun Cemara. Keseruan di Kebun Cemara juga semakin terasa karena mengikutsertakan anak-anak untuk ikutserta selama proses pembuatannya.
Kemudian bergeser sedikit ke RT 04 RW 05 Boyongsari, ada Kebun Tani Muda Berdaya. Sesuai dengan namanya, kebun ini diisi oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid (IRMAJA) dan menyukai tanam menanam.
Ciri Khas dari Tani Muda Berdaya antara lain, memaksimalkan Pekarangan rumah untuk tanaman dan memanfaatkan plastik kresek bekas menjadi media tanam, membuat kompos secara mandiri dan memanfaatkan limbah ikan yang diambil dari Tempat Pelalangan Ikan (TPI) di kelurahan Panjang Wetan menjadi pupuk cair.
Tani Muda Berdaya selalu membagikan hasil panennya untuk jamaah masjid dan warga sekitar yang membutuhkan secara gratis, demi mendukung makanan yang lebih sehat dikepungan fenomena stunting di kelurahan Panjang Baru.

Begitulah usaha dari Pokja PI Panjang Baru untuk menyebarkan semangat tanam menanam walaupun dengan lahan sempit dan sedikit menghijaukan wilayah Kelurahan Panjang Baru.