Sistem Terpadu Urban Farming dan Budidaya Lele : Pemanfaatan Sampah Organik dan Maggot sebagai Pakan Lele

Author

Pokja PI Krapyak

Sampah organik, yang berasal dari bahan-bahan alami seperti sisa makanan, daun, kulit buah, sayuran, limbah pertanian dan sejenisnya memiliki potensi besar apabila diolah dan dimanfaatkan kembali dengan cara pembuatan pupuk dan maggot sebagai pakan ternak. Pengolahan sampah organik ini ditujukan untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA, dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan seperti pencemaran bau menyengat ke pemukiman warga sekitar yang akan menjadikan lingkungan semakin kumuh. Sebagai contoh dari sisa-sisa makanan yang tidak terpakai, agar tidak terbuang sia-sia seperti nasi, sayuran, buah dan kulitnya maka dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menjadi nilai ekonomi. Melihat peluang ini, Pokja PI Krapyak bekerjasama dengan LPM Kelurahan Krapyak mengambil peran dengan menggandeng TPS 3R Rusun indah yang berada di Rusunawa Slamaran. TPS 3R Rusun Indah yang dikelola oleh Joko bersama istrinya ini mencakup pengambilan sampah di 3 RW (RW 10, 16 dan 17). Dalam sebuah perbincangan santai antara Pokja PI Krapyak, LPM dan pengelola TPS 3R Rusun indah terbersit ide cemerlang untuk memanfaatkan sampah organik yang ada di TPS 3R Rusun Indah selain sudah dijadikan pupuk kompos, yakni dengan memiliki budidaya lele menggunakan kolam terpal dan diberi pakan maggot hasil dari olahan sampah organik yang ada di TPS 3R Rusun Indah. 

Setelah itu, kami menyusun rencana dan strategi dengan detail dimulai dari pembuatan kolam terpal untuk budidaya ikan lele tepat di depan lokasi TPS 3R Rusun Indah. Kami memanfaatkan lahan kosong tersebut agar dapat lebih bermanfaat dan enak dipandang. Aksi ini dilakukan mulai tanggal 28 April 2024 dengan melibatkan Pokja PI sebanyak 10 orang (L : 5, P : 5) dan anggota LPM sebanyak 3 orang laki-laki, berlokasi di TPS 3R Rusun Indah Krapyak. Tahap pertama yang dilakukan adalah pembersihan lahan dengan membersihkan rumput dan perataan tanah.  Tahap kedua yaitu membuat kolam terpal sebanyak 2 buah dengan ukuran 3x1m² dengan isian 1.500 ekor ikan lele per kolamnya. Tahap ketiga yaitu membuat pagar untuk menjaga keamanan budidaya ikan lele. Untuk tebar benih, dilakukan pada 03 Mei 2024, ukuran ikan lele yakni 9-10 cm dengan usia 3 bulan. Perkiraan panen sekitar 1,5 bulan kemudian. 

Budidaya ikan lele ini menjadi terobosan kolaborasi Pokja PI bersama LPM Kelurahan Krapyak sebagai upaya bisnis berkelanjutan agar kedepannya Pokja PI dapat sustain dan bisa menjadi alternatif mata pencaharian masyarakat setempat. Setelah aksi ini, Pokja PI akan membuat kandang budidaya magot yang akan ditempatkan berdampingan dengan kolam terpal lele. Hal ini merupakan kesinambungan program budidaya lele dengan pemberian makan berupa maggot.

Setelah adanya budidaya lele di kolam terpal, aksi selanjutnya yang kami lakukan adalah pembuatan kandang sebagai tempat budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF). Tahap awal pembuatan kandang maggot ini dilakukan pada 26 Mei- 02 Juni 2024 dengan ukuran 2,5x1,2m². 

Tahapan budidaya larva ini dimulai dari menetaskan telur, memindahkan larva ke media pembesaran yang berupa limbah organik. Lalu pada tahap akhir adalah pemanenan maggot. Alat yang digunakan dalam budidaya maggot dan kasgot antara lain bak, pisau, saringan, centong, gayung, dan jaring. Selain itu, bahan yang dibutuhkan antara lain telur maggot, pur, dedak, dan sampah organik.

Untuk mengetahui lebih lanjut terkait siklus maggot, yakni dimulai dari telur maggot. Telur akan menetas dalam waktu satu minggu, kemudian akan menjadi larva atau baby maggot. Maggot dikembangkan di biopond (tempat pembesaran maggot) selama 21 hari dan diberi pakan sampah organik. Selanjutnya, maggot akan memasuki fase prepupa. Selama 14 hari maggot tidak makan untuk menjadi pupa. Setelah memasuki fase pupa, maggot memerlukan waktu tiga sampai tujuh hari untuk bermetamorfosis menjadi lalat BSF. Ketika sudah menjadi lalat BSF, para pejantan hanya memiliki waktu tiga hari untuk berkembang biak dengan lalat betina. Selepas melakukan proses perkembangbiakan, lalat jantan akan mati dan lalat betina akan masuk ke fase pembibitan atau bertelur selama tiga hari berikutnya. Lalat betina akan mengikuti jejak para pejantan setelah menyelesaikan proses bertelur. Begitu pula seterusnya siklus tersebut berulang.

Inovasi lain yang kami kembangkan dari emlihat potensi maggot yang digunakan sebagai pakan ikan lele, maka kami memanfaatkan lahan di sekitar kolam terpal lele untuk dijadikan lokasi urban farming dengan menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai, tomat, terong, dan tanaman obat keluarga seperti kunyit, jahe, kencur, serai. Kami merancang desain agar aliran pembuangan limbah dari kolam terpal lele dapat mengalir ke tanaman melalui pralon pembuangan yang ada di kolam terpal lele sehingga ketika limbah dari kolam terpal dibuang maka otomatis akan menyirami tanaman yang ada di sekitar lokasi sebagai tambahan nutrisi. 

Dari adanya kegiatan terpadu antara urban farming dan budidaya lele ini, maka akan menciptakan sebuah siklus berulang. Pengolahan sampah organik menjadi maggot tidak hanya efisien dalam pengelolaan sampah, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular, di mana limbah ynag dihasilkan dapat menjadi produk yang bermanfaat. Melihat sistem terpadu yang ada di TPS 3R Rusun Indah Krapyak ini, maka tidak hanya sampah rumah tangga yang mencakup 3 RW saja, namun limbah urban farming yang masuk kedalam jenis sampah organik yakni berupa daun, batang tanaman, rumput dan sebagainya dapat diolah menjadi maggot. Maggot dari sampah organik kemudian dapat menjadi pakan alternatif ikan lele yang ada di TPS3R Rusun Indah Krapyak dengan kandungan protein yang tinggi dan juga sebagai langkah untuk mengurangi biaya pakan. Setelah maggot dipanen, sisa sampah organik yang tidak sepenuhnya dimakan oleh maggot pun dapat diolah menjadi pupuk organik yang kaya akan nutrisi bagi tanaman. Lalu, limbah dari kolam terpal ikan lele dapat mengairi tanaman agar tumbuh dan berkembang dengan optimal.